Show simple item record

dc.contributor.advisorSinaga, Siti Morin
dc.contributor.advisorHarun, Fathur Rahman
dc.contributor.authorHarahap, Elliyusnora
dc.date.accessioned2019-03-28T02:43:19Z
dc.date.available2019-03-28T02:43:19Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.otherNurhusnah Siregar
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/12910
dc.description141524041en_US
dc.description.abstractRotan muda termasuk dalam suku Arecacea, batangnya beruas jelas dan bagian dalam berisi jaringan pembuluh. Rotan muda yang biasa disebut “Pakkat” merupakan makanan khas Medan, terutama masyarakat Tapanuli Selatan. Pengolahan pakkat biasa dilakukan oleh masyarakat yaitu dibakar dan direbus seterusnya disajikan dengan sambal khusus yang bahan utamanya kecap encer khas Mandailing atau bisa juga dicampur terasi dan bumbu urap. Pakkat ini sangat diminati karena memiliki khasiat sebagai pembangkit nafsu makan, pengobatan kencing manis dan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat vitamin C dan untuk mengetahui kadar serta perbedaan kadar vitamin C pada pakkat segar, pakkat bakar dan pakkat rebus. Pada penelitian ini analisis vitamin C pada pakkat meliputi analisis kualitatif menggunakan feri klorida dan perak amoniakal dan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode 2,6-diklorofenol indofenol dan metode iodimetri. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin C dengan metode 2,6-diklorofenol indofenol pada pakkat segar, pakkat bakar dan pakkat rebus masing-masing sebesar (21,8834 ± 0,4215) mg/100g; (18,1301 ± 0,4470) mg/100g; (15,8306 ± 0,3934) mg/100g. Kadar vitamin C dengan metode iodimetri pada pakkat segar, pakkat bakar dan pakkat rebus masing-masing sebesar (37,0861 ± 3,2808) mg/100g; (25,6787 ± 3,9033) mg/100g; (17,1017 ± 0,0159) mg/100g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C dengan metode 2,6-diklorofenol indofenol dan metode iodimetri pada pakkat segar lebih tinggi daripada kadar pada pakkat bakar dan pakkat rebus.en_US
dc.description.abstractYoung rattan included in the tribe Arecaceae, stem clearly segmented and the inside contains vascular tissue. Young rattan commonly called “Pakkat” in Medan is a typical food, especially the South Tapanuli. Pakkat procesing is usually done by Mandailing is burned so served with special sauce is the main ingredient of soy sauce typical aqueous Mandailing or can be mixed with shrimp paste and seasoning urap. Pakkat are in great demand because it has appetited , treatment of diabetes and malaria. This study aims to determine whether there are vitamin C and to determine levels as well as different levels of vitamin C in fresh pakkat, pakkat grilled, and pakkat boiled. Analysis of vitamin C in pakkat include qualitative analysis using reagent ferri chlorida and silver amoniakal, quantitative analysis using 2,6-diklorofenol indofenol and iodimetri method. The results show that the vitamin C with 2,6-diklorofenol indofenol contents in fresh pakkat (21.8834 ± 0.4215) mg/100g, grilled pakkat (18.1301 ± 0.4470) mg/100g and boiled pakkat (15.8306 ± 0.3934) mg/100g. Vitamin C by iodimetri method contents in fresh pakkat (37.0861 ± 3.2808) mg/100g, grilled pakkat (25.6787 ± 3.9033) mg/100g and boiled pakkat (17.1017 ± 0.0159) mg/100g. The results show that 2,6-diklorofenol indofenol and iodimetri method contents in fresh pakkat is higher than in grilled and boiled pakkat.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectPakkaten_US
dc.subjectVitamin Cen_US
dc.subject2,6-Diklorofenol Indofenolen_US
dc.subjectIodimetrien_US
dc.titleAnalisis Kadar Vitamin C pada Pakkat (Calamus caesius Blume.) Secara Volumetri dengan 2,6-Diklorofenol Indofenol dan Iodimetrien_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record