Show simple item record

dc.contributor.advisorNurbani
dc.contributor.authorWarzuqni, Dini
dc.date.accessioned2019-04-12T01:35:56Z
dc.date.available2019-04-12T01:35:56Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.otherNurhusnah Siregar
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/13344
dc.description140904195en_US
dc.description.abstractPenelitian ini berjudul studi deskriptif kualitatif, Komunikasi Keluarga Broken Home (Studi Kasus Korban Broken Home di Kota Medan). Adapun tujuannya adalah untuk melihat fenomena yang tejadi pada korban broken home lalu menemukan solusi yang tepat agar korban tersebut tidak terjerumus dalam hal negatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara kepada informan satu persatu. Korban broken home sangatlah marak di era sekarang. Banyak hal yang terjadi di karenakan permasalahan keluarga. Permasalahan utama dalam kasus Broken Home adalah kurangnya kasih sayang, trauma dalam jangka panjang dan kehilangan arah hidup. Itu adalah permasalahan yang selalu dikatakan informan. Mereka bingung harus berbuat apa harus bersikap seperti apa. Ada yang sudah mulai lupa namun tetap merasakan perbedaan dengan anak-anak lainnya. Ada yang baru saja mengalaminya jadi sangat bingung apa bagaimana cara bertindak sebagaimana mestinya. Dan 2 dari tiga informan kebanyakan ditelantarkan oleh orang tuanya setelah mereka bercerai. Hal tersebut sangat menambah permasalahan bagi anak tersebut. Komunikasi keluarga dalam Korban Broken Home kebanyakan berjalan dengan baik. Dan efektif dalam mencegah perilaku buruk pada mereka. Dengan dukungan dan arahan dari keluarga membuat mereka kuat dan mampu melewati permasalahannya sedikit demi sedikit. Baik itu dari saudara kandung, keluarga diluar keluarga inti maupun orang tua kandung atau orang tua tiri yang berkemungkinan dapat bersikap baik pada mereka. Lalu semua informan memiliki harapan tinggi untuk memperjuangkan hidup mereka dan membahagiakan orang-orang yang mereka cintai lalu dapat terselamatkan dari bahaya Broken Home. Meskipun mereka sebenarnya masih diselimuti rasa takut dan trauma tapi mereka tetap ingin berjuang. Semua informan yang telah diwawancarai adalah anak Broken Home yang tidak terjerumus kedalam hal yang negatif seperti bunuh diri,narkoba atau hal yang lainnya. Semuanya adalah pribad yang dewasa yang ingin maju dan membuat hidup mereka lebih baik. Dua diantara tiga informan sudah mengalami kejadian seperti ini sedari kecil dan mereka masih merasakan dampaknya ketika di usia dewasa. Itu mnandkan bahwa dampak Broken Home adalah dampak jangka panjang yang harus dihadapi para korbannya. Meskipun begitu korba Broken Home harus mampu bangkit dan keluar dari kesengsaraan dan penderitaan mereka. Sehingga kesempatan bahagia masih bisa mereka raih.en_US
dc.description.abstractThis research is entitled qualitative descriptive study, Broken Home Family Communication (Case Study of Broken Home Victims in Medan City). The purpose is to see the phenomenon that happened to the victim's broken home and then find the right solution so that the victim does not fall into negative things. The data collection technique in this study is by conducting interviews with informants one by one. The victims of broken homes are very prevalent in the present era. Many things happened because of family problems. The main problem in the Broken Home case is the lack of love, trauma in the long run and loss of direction in life. That is the problem the informant always says. They are confused about what they should do. Some have begun to forget but still feel the difference with other children. Someone who has just experienced it becomes very confused about how to act properly. And 2 of the three informants were mostly abandoned by their parents after they divorced. This greatly adds to the problem for the child. Family communication in Broken Home Victims mostly works well. And effective in preventing bad behavior on them. With the support and direction of the family, they make them strong and able to overcome their problems little by little. Whether it's from siblings, families outside the nuclear family or biological parents or stepparents who are likely to be nice to them. Then all the informants have high hopes to fight for their lives and make people happy they love and can be saved from the dangers of Broken Home. Although they are actually still covered with fear and trauma, they still want to fight. All informants interviewed were Broken Home children who did not fall into negative things such as suicide, drugs or anything else. Everything is an adult person who wants to move forward and make their lives better. Two of the three informants have experienced this kind of incident since they were young and they still feel the impact when they are adults. It indicates that the impact of Broken Home is the long-term impact that must be faced by its victims. Even so, the Broken Home corba must be able to rise and get out of their misery and suffering. So they can still have a happy opportunity.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectKomunikasi Keluargaen_US
dc.subjectBroken Homeen_US
dc.subjectPerhatian dan Kasih Sayangen_US
dc.titleKomunikasi Keluarga Broken Home ( Studi Kasus Korban Broken Home di Kota Medan)en_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record