Show simple item record

dc.contributor.advisorSibarani, Robert
dc.contributor.advisorSaragih, Amrin
dc.contributor.advisorMulyadi
dc.contributor.authorBarus, Jumat
dc.date.accessioned2019-05-09T02:55:27Z
dc.date.available2019-05-09T02:55:27Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/13993
dc.description329 Halamanen_US
dc.description.abstractThis study aimed to examine and to make pattern of verbal and nonverbal taboo expression in Karo language, that are considered breaking the language rules and can result in "loss of face" or cause harm to both of speakers and listeners. Based on the anthropolinguistics approach and ethnographic method, taboo was analyzed through the prism of the core anthropological concept, culture, and, as such, seeks to uncover the meaning behind the use, misuse, non-use of language, its different forms, registers and styles based on the local community understandings. This research was conducted in five sub-districts in Tanah Karo District, North Sumatra Province, namely Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, and Simpang Empat Districts. Data were collected by participantobservation and interview method. The data were words, phrases, and clitics and that were considered taboo both lexically and culturally, and kinship relationship that were considered taboo to make direct communication, strategy to avoid the tabooness, punishment for taboo violators, expression meanings and functions of taboo, values, norms, and shift of taboo. Data were analyzed by domain, taxonomy, componential, and theme analysis. The results showed that Karo taboo expression could be classified into three categories, namely: kinship taboo, context-specific taboo, and general taboo. The tabooness was not only based on the lexical aspect or the text used, but also because of the context and co-text used in the expression process. Taboo expressions in kinship could be avoided by intermediary strategies, and context-specific taboos and general taboos could be avoided by their forms of euphemism. The meanings of the taboo were: insulting, demeaning honor, arrogance, increasing others’ sadness, triggering disgraceful deeds, opening up disgrace, and harassing a glorified person. Taboo rules served to maintain relationships, show the same rights and desires, educate to be humble, and avoid people from disputes. The taboo value in the Karo language is 'peace', while the norm is to maintain self-respect and create a peaceful life using selected methods and languages. The shift in the meaning of taboos has begun to occur due to factors of education, environment, globalization, and marriage, however, the preservation of the taboo is still being maintained for its functions to preserve harmonious sustainability in the society.en_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk menelaah dan memolakan ekspresi tabu dalam bahasa Karo, yaitu ekspresi verbal dan nonverbal yang dianggap melanggar aturan bahasa, dan ekspresi verbal yang dapat mengakibatkan “kehilangan muka” atau menimbulkan bahaya bagi penutur dan pendengarnya. Berdasarkan ancangan antropolinguistik dan metode etnografi, tabu dianalisis dengan mencari makna di balik penggunaan, kesalahpenggunaan, ketidakpenggunaan, bahasa dan di balik bentuk dan gayanya yang berbeda berdasarkan pemahaman masyarakat setempat. Penelitian ini dilakukan di lima kecamatan di Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara, yakni Kecamatan Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, dan Simpang Empat. Pengumpulan data menggunakan metode pengamatanpartisipatif dan wawancara terhadap sembilan orang informan. Datanya adalah kata, frasa, dan klitik yang dianggap tabu secara leksikal maupun budaya, ekspresi dan hubungan kekerabatan yang dianggap tabu dalam komunikasi, strategi menghindari tabu, sanksi pelanggar tabu, makna ekspresi tabu, fungsi aturan tabu, nilai dan norma tabu, dan pergeseran tabu. Data dianalisis dengan analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema. Hasilnya menunjukkan bahwa tabu bahasa Karo digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu: tabu ekspresi dalam hubungan kekerabatan, tabu ekspresi konteks-spesifik, dan tabu ekspresi umum. Ketabuan tidak hanya berdasarkan aspek leksikal atau teks yang digunakan, namun juga karena konteks dan ko-teks dalam proses ekspresinya. Ekspresi tabu dalam hubungan kekerabatan dapat dihindari dengan strategi perantara, dan tabu konteksspesifik dan tabu umum dapat dihindari dengan bentuk eufemisme masing-masing. Ekspresi tabu bermakna: menghina, merendahkan kehormatan, kesombongan, menambah kesedihan orang lain, memicu perbuatan tercela, membuka aib, dan melecehkan orang yang dimuliakan. Aturan tabu berfungsi untuk menjaga hubungan, menunjukkan hak dan keinginan yang sama, mendidik untuk rendah hati, dan menghindarikan orang dari perselisihan. Nilai tabu dalam bahasa Karo adalah „kedamaian‟, sedangkan normanya adalah menjaga kehormatan diri dan menciptakan kehidupan yang damai dengan menggunakan cara dan bahasa yang terpilih. Pergeseran makna tabu telah terjadi disebabkan faktor pendidikan, lingkungan, globalisasi, dan perkawinan, namun pelestariannya masih terus dilakukan karena berfungsi untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectTabooen_US
dc.subjectContext-Specificen_US
dc.subjectSwearingen_US
dc.subjectLexicalen_US
dc.subjectEuphemismen_US
dc.titleTabu dalam Bahasa Karoen_US
dc.typeDisertasi Doktoren_US
dc.identifier.nimnipnik148107007


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record