Show simple item record

dc.contributor.advisorThaib, Hasballah
dc.contributor.advisorYamin, Muhammad
dc.contributor.advisorBarus, Utary Maharany
dc.contributor.authorLubis, Taufiq Tahir Yusuf
dc.date.accessioned2019-05-14T06:10:12Z
dc.date.available2019-05-14T06:10:12Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/14152
dc.description144 Halamanen_US
dc.description.abstractDzawil arham didalam Kompilasi Hukum Islam tidak termasuk dalam golongan ahli waris, karena golongan ahli waris menurut Kompilasi Hukum Islam ada tiga yaitu golongan ahli waris dzul fardin (dzawil furudh), ashabah dan ahali waris pengganti (Plasverfulling), sementara dalam perkara penetapan Nomor: 014/Pdt.P/2014/PA-LPK, majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut, menetapkan seorang ahli waris yang tergolong merupakan dzawil arham sebagai ahli waris dan berhak atas keseluruhan harta si pewaris. Teori dalam penelitian ini adalah teori keadilan menurut hukum Islam atau al’adlu, jenis penelitian ini adalah yuridis normatif, dan jenis penelitian ini adalah deskriftif analitis, data yang digunakan merupakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tresier. Kedudukan dzawil arham dalam sistem kewarisan Islam terdapat kontroversial diantara para ulama, sebahagian menyatakan bahwa golongan ini adalah termasuk ahli waris dan sebagaian lagi menyatakan bahwa golongan ini tidak termasuk ahli waris, golongan ulama yang meyatakan bahwa ini ahli waris melihat Surat Al-Anfal ayat 75 dan sunah rasul dalam kasus Tsabit bin Ad- Dahdah, dua dasar tersebut, yang menguatkan para ulama menyatakan bahwa dzawil arham merupakan golongan ahli waris yang berhak atas harta warisan. Dua unsur dzawil arham mendapatkan harta warisan pewaris yaitu yang pertama tidak adanya ahli waris dzul fardin (dzawil furudh) dan tidak adanya ahli waris asahabah. Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara penetapan tersebut pada ijtihad dan bukan merujuk pada Kompilasi Hukum Islam sebagai dasar rujukan hukum waris Islam di Indonesia. Kesimpulan dalam penelitian ini, bahwa dzawil arham menurut fikih tradisional atau pendapat para ulama merupakan ahli waris, dalam kasus ini bahwa seorang dzawil arham dapat menjadi ahli waris bila tidak ada ahli waris dzul fardin atau asahabah, hakim dalam perkara penetapan Nomor: 014/Pdt.P/2014/PA-LPK menggunakan ijtihad dan doktin para ulama, sedangkan saran yang penting dalam hal ini adalah seharusnya kedudukan dzawil arham diatur dan dimasukan sebagai ahli waris yang diakui di dalam kompilasi hukum Islam serta disarankan pada pemerintah untuk membuat Kompilasi Hukum islam dalam sebuah bentuk undang-undang.en_US
dc.description.abstractDzawil Arham in the Compilation of the Islamic Law is not included in the category of an heir because, according to the Compilation of the Islamic Law, there are three categories of heir: dzul fardin (dzawil furudh), asahabah, and substituting heir (Plasverfulling), while in the verdict No. 014/Pdt.P/2014/PA-LPK, the panel of judges in the hearing of the case appointed an heir that was not dzawil arham who had the right for the inheritance. The research used the theory of justice according to the Islamic law or al’adlu with judicial normative and descriptive analytic approaches. Secondary data consisted of primary, secondary, and tertiary legal materials. There is a controversy among the Islamic scholars about dzawil arham in the Islamic inheritance system. Some of them argue that this category is included in heirs and some other say it is not. The Islamic scholars who say that this category is included as heirs refer to Surah Al-Anfal, verse 75 and the Prophet sunnah stipulated in the case of Tsabit bin Ad-Dahdah which states that dzawil arham is included the category of an heir who has the right on inheritance. There are two elements which state that dzawil arham gets inheritance: the absence of dzul fardin (dzawil furudh) heir and the absence of asahabah heir. The judge’s consideration in giving a verdict on the case was based on ijtihad and not on the Compilation of the Islamic Law as the reference for the Islamic Inheritance law in Indonesia. The conclusion of the research was that dzawil arham, according to traditional fiqih or the Islamic scholars’ opinion, is an heir. In this case, a dzawil arham can be an heir when there is no dzul fardin or asahabah heir. The judge, in his verdict No. 014Pdt.P/2014/PA-LPK, had used ijtihad and the scholars’ doctrine. It is recommended that the position of dzul arham should be regulated and included as an heir that is recognized in the Compilation of the Islamic Law. It is also recommended that the government apply the Compilation of the Islamic Law as a law.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectDzawil Arhamen_US
dc.subjectAhli Warisen_US
dc.subjectPenetapan Pengadilanen_US
dc.titleAnalisis Yuridis Atas Putusan Nomor: 014/PDT.P/2014/PA-LPK Tentang Penetapan Ahli Waris Dzawil Arham yang Mendapatkan Seluruh Harta Warisan si Pewarisen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik127011127


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record