Show simple item record

dc.contributor.advisorFachrudin, Khaira Amalia
dc.contributor.advisorBukit, Rina Br.
dc.contributor.authorMunte, Hery Sanukri
dc.date.accessioned2019-08-20T04:15:27Z
dc.date.available2019-08-20T04:15:27Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/16894
dc.description108 Halamanen_US
dc.description.abstractProperti perkebunan kelapa sawit merupakan properti menghasilkan, dimana tanaman kelapa sawit merupakan unsur utama yang memberikan manfaat dengan kontribusi terbesar terhadap penciptaan nilai. Tanaman kelapa sawit merupakan aset biologis yang mengalami transformasi pertumbuhan dan membutuhkan waktu yang panjang semenjak dari bibit sampai menghasilkan. Diperlukan pengukuran yang dapat menunjukkan nilai dari properti tersebut secara wajar sesuai dengan kontribusinya. Model biaya adalah metode yang umum digunakan dalam penyajian laporan keuangan yang mengacu kepada PSAK 16 tentang aset tetap yang kurang mencerminkan kualitas sesungguhnya dari aset karena dicatat sebesar biaya. PSAK 69 agrikultur yang menerapkan konsep nilai wajar hadir untuk menjawab beberapa keunikan dari karakteristik agrikultur tanaman kelapa sawit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbandingan nilai aset biologis dan produk agrikultur dengan menggunakan 2 pendekatan yaitu pendekatan pasar dan pendekatan pendapatan. Untuk memenuhi penelitian, dilakukan studi kasus dengan pendekatan kuantitatif menilai tanaman kelapa sawit di PT Musam Utjing di Kabupaten Langkat. Pendekatan pasar menggunakan metode perbandingan langsung, sementara pendekatan pendapatan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF). Pengumpulan data dilakukan melalui analisis laporan internal dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan nilai aset biologis sebelum diterapkanya PSAK 69 adalah Rp. 121.140.000.000,- sedangkan setelah diterapkannya PSAK 69 maka nilai yang dicatatkan menjadi 2 bagian yaitu nilai wajar tanaman produktif (tegakan) dan nilai wajar produk agrikultur. Dengan menggunakan pendekatan pasar diperoleh nilai wajar tanaman produktif sebesar Rp.118.083.410.741,- dan nilai wajar produk agrikultur sebesar Rp. 3.056.589.259,-. Sedangkan menggunakan pendekatan pendapatan diperoleh nilai wajar tanaman produktif sebesar Rp.110.354.000.000,- dan nilai wajar produk agrikultur sebesar Rp.10.786.000.000,-. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan nilai wajar produk agrikultur apabila dinilai menggunakan pendekatan pasar dibandingkan dengan pendekatan pendapatan sebesar 252,9%.en_US
dc.description.abstractProperty of palm oil plantation is income producing property in which oil palm is the most important commodity which has the biggest contribution to the creation of values. Palm oil plants are biological assets which experiences growth transformation and needs a long period from seedlings to productive plants. Therefore, it is necessary to have the measurement which can indicate the value of the property appropriately according to its contribution. Cost model is usually used in presenting financial statement which is referred to PSAK 16 on fixed asset that does not reflect the real quality of asset since it is only recorded its cost. PSAK 69 agriculture applies fair value to respond to some uniqueness of the agricultural characteristics of oil palm. The objective of the research was to analyze the difference between the value of biological assets and agricultural products by using market and income approach. The research used quantitative case study approach which was aim to assess oil palm plants at private estate in Kabupaten Langkat. Direct comparison method was used for market approach while Discounted Cash Flow (DCF) was used for income approach. The data were gathered through internal report analysis and semi-structured interviews. The result of the research showed that the value of biological assets in pre-PSAK 69 was IDR.121,140,000,000 while in the post-PSAK 69 the recorded value consisted of two parts: fair value of bearer plants and fair value of agricultural products. Through market approach, it was found that fair value of bearer plants was IDR.118,083,410,741 and fair value of agricultural products was IDR.3,056,589,259. Through income approach, it was found that fair value of bearer plants was IDR.110,354,000,000 and fair value of agricultural products was IDR.10,786,000,000. The conclusion was that the difference in fair value of agricultural products, assessed by using market approach and by using income approach, was 252.9%.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectBiological Assetsen_US
dc.subjectNilai Wajaren_US
dc.subjectProduk Agrikulturen_US
dc.subjectPSAK 69en_US
dc.titleAnalisis Perbandingan Nilai Biological Assets dan Produk Agrikultur dengan Menggunakan Pendekatan Pasar dan Pendekatan Pendapatan Setelah Penerapan PSAK 69 Agrikultur pada Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus PT Musam Utjing)en_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik177048016


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record