Show simple item record

dc.contributor.advisorPohan, Syafruddin
dc.contributor.advisorWijaya, Haris
dc.contributor.authorHarahap, Mbardo Hamzah
dc.date.accessioned2019-10-08T11:58:01Z
dc.date.available2019-10-08T11:58:01Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/19396
dc.description182 Halamanen_US
dc.description.abstractThe purpose of this research is to figure out how the real problems that exist in the city of Tanjungbalai regarding the ethnicity conflict the occurred on the 29th of July 2016 and the influencing factors that caused the process of the conflict handling. The method used in this research is qualitative-descriptive with the constructivist paradigm. Data collecting technique is done by in-depth interview method, documentation and observation to gather detailed information from phenomenon on the field. In this research, some dimensions of conflict and intercultural communication are the theory of the progression. The research subjects are formal and informal figures of nine individuals which some were directly involved in the conflict handling for which a clue was figured that was almost similar to what happened on the field and for future handling. The main issue of this conflict was due to statue position of construction of Vihara Tri Ratna which immediately followed up and resolved the situation by Local Head Leader Communication Forum (Forkopimda). Finally, Which is the agreement to remove the statue of Amitabba in Tri Ratna Vihara. On the conflict handling aspect, intercultural communication intertwined is already very basic and results in the salvation wanted. The process of salvation and future expectation is to have the respectful and rewarding plural community. So that diversity (pluralism) and heterogeneous of the people of Tanjungbalai can be maintained peacefully in a smooth way.en_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya masalah yang ada di Kota Tanjungbalai dalam konflik etnis yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2016 dan faktor yang mempengaruhinya sehingga terjadilah proses penanganan konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam, dokumentasi serta observasi guna memperoleh informasi-informasi secara detail dari fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan. Pada penelitian ini, beberapa dimensi konflik dan komunikasi antarbudaya yang dijadikan teori pengembangannya. Subjek penelitian terdiri dari tokoh formal dan informal sebanyak sembilan orang yang diantaranya langsung ikut dalam penanganan konflik. Untuk itu didapat sebuah petunjuk yang hampir sama dengan kejadian dilapangan dan penanganan untuk kedepan. Akar masalahnya yaitu pendirian patung di Vihara Tri Ratna, dan pihak Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung menindaklanjuti dan menyelesaikannya. Dan akhirnya mendapatkan kesepakatan untuk menurunkan patung Amitabba yang ada di Vihara Tri Ratna. Dari aspek penanganan konflik, komunikasi antarbudaya yang dibangun sudah sangat standar dan menghasilkan penyelesaian yang diinginkan. Proses penyelesaian dan harapan kedepan adalah menjadikan masyarakat majemuk yang saling menghormati dan saling menghargai. Sehingga keberagaman (pluralisme) dan heterogennya masyarakat Tanjungbalai bisa terjaga dengan aman dan lancar.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectKonfliken_US
dc.subjectEtnisen_US
dc.subjectPenanganan Konfliken_US
dc.subjectKomunikasi Antarbudayaen_US
dc.subjectTanjungbalaien_US
dc.titlePenanganan Konflik Etnis di Kota Tanjungbalai dalam Perspektif Komunikasi Antarbudayaen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik157045031


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record