Show simple item record

dc.contributor.advisorSafrin
dc.contributor.authorSari, Tantika Ratna
dc.date.accessioned2019-12-26T03:38:49Z
dc.date.available2019-12-26T03:38:49Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/21982
dc.description148 Halamanen_US
dc.description.abstractThis study aims to look at the self-disclosure of juvenile victims of cyberbullying in social media ask.fm in the city of Medan. Self-disclosure is an activity to share information about yourself to others and is needed in order to develop a relationship. The paradigm used in this research is the paradigm interptetif using qualitative case study that focuses on a particular unit of a variable so that the results obtained are profound. This interpretive paradigm used in qualitative research because it directs researchers to know how to fit into the conceptual world of research subjects in such a way so as to understand how self-disclosure of juvenile victims of cyberbullying in social media ask.fm. Selection is done by purposive sampling informants Technique is a way of determining a number of informants prior research by specifying criteria for informants in accordance with the data needed by researchers. Subjects were victims of cyberbullying in ask.fm teenagers who live in the city of Medan as many as four people aged 12-18 years. The results showed self disclosure of juvenile victims of cyberbullying in social media ask.fm in Medan is quite open. Social media ask.fm chosen by teenagers as a social media that are popular and widely used. Cyberbullying received by juveniles in the form of flaming and online harrasment containing rant and delivered repeatedly. Cyberbullying experienced by adolescents did not significantly affect the openness of teenagers in ask.fm views of answers and adolescents in using ask.fm intensity is still high.en_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk melihat self disclosure remaja korban cyberbullying di media sosial ask.fm di kota Medan. Self disclosure merupakan kegiatan membagi informasi mengenai diri sendiri kepada orang lain dan diperlukan dalam rangka pengembangan hubungan. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interptetif dengan menggunakan metode penelitian studi kasus kualitatif yang memusatkan diri pada suatu unit tertentu dari variabel sehingga hasil yang didapatkan mendalam. Paradigma interpretif ini digunakan dalam penelitian kualitatif karena mengarahkan peneliti untuk mengetahui bagaimana cara masuk ke dalam dunia konseptual subjek penelitian dengan sedemikian rupa sehingga dapat memahami bagaimana self disclosure remaja korban cyberbullying di media sosial ask.fm. Pemilihan informan dilakukan dengan Purposive Sampling Technique yaitu cara penentuan sejumlah informan sebelum penelitian dengan menetapkan kriteria informan sesuai dengan data yang diperlukan oleh peneliti. Subjek penelitian adalah remaja korban cyberbullying di ask.fm yang berdomisili di Kota Medan sebanyak 4 orang yang berusia 12-18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan self disclosure remaja korban cyberbullying di media sosial ask.fm di kota Medan cukup terbuka. Media sosial ask.fm dipilih oleh remaja karena merupakan media sosial yang sedang populer dan banyak digunakan. Cyberbullying yang diterima oleh remaja berupa flaming dan online harrasment yang berisi kata-kata kasar dan disampaikan berulang-ulang. Cyberbullying yang dialami remaja tidak terlalu mempengaruhi keterbukaan remaja di ask.fm dilihat dari jawaban dan intensitas remaja dalam menggunakan ask.fm yang masih tinggi.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectSelf Disclosureen_US
dc.subjectCyberbullyingen_US
dc.subjectRemajaen_US
dc.subjectAsk.Fmen_US
dc.titleSelf Disclosure Remaja Korban Cyberbullying (Studi Kasus Tingkat Keterbukaan Diri Remaja Korban Cyberbullying di Media Sosial Ask.fm di Kota Medan)en_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US
dc.identifier.nimnipnik120904060


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record