Show simple item record

dc.contributor.advisorHarahap, R.Hamdani
dc.contributor.advisorAmir, Amri
dc.contributor.authorKeloko, Sri Agustina Sembiring
dc.date.accessioned2020-01-22T01:21:05Z
dc.date.available2020-01-22T01:21:05Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/22936
dc.description149 Halamanen_US
dc.description.abstractExperience Based Local Knowledge, has been tested for centuries and has been adapted to local culture and environment. With regard to the utilization of traditional medicine, the knowledge has been through long stages and has been tested from generation to generation by society just as they did in Karo regency. The people of Karo have always known various kind of traditional medicine. This fact shows the people of Karorecognize several types of disease and ways of treating them. This kind of knowledge is said to be one of the local wisdom that still survive until now. This research is a qualitative research. The determination of informants in this research was done through Snowball Sampling technique whichmeans the data were collected gradually until a lot of data are gained just like a rolling snowball. The data were collected through in-depth interview and observation. The gained data were analyzed and then presented narratively and addedwith the quotations results of interview with informants, the make it in percentage form and presented in the form of picture/graph. The results of this study indicate that from 101 traditional health workers from 17 sub districts in Karo regency, purposive sampling technique was used to get 17 “Hattra” Key Informants from 7 sub districts as the sample of this research. The forms of traditional healthcare in Karo regency are 67% skills, 27% herb, and 6% combination of skill and herb, “Hattra” age has a small percentage (20-30 years) that is 5.58% while the largest, 51 years and above, is 70%. Hereditary (empirical) is the highest way of getting skills with 71%. Farmer (59%) is the highest non-Hattra occupation and 82% without license/STPT (Registered Letter of Traditional Healthcare). Medicinal herbs that are made by Karo ethnic called “ObatKaro” and have been widely recognized by the people of Karo, even so for people outside Karo. The Herbs are traded in the form of raw materials or in the form of processed. The most commonly used medicine is Harimo, Lempuyang, Lada (pepper), BawangPutih (garlic), Bawangmerah (onion), Bahing, TinggerenKerukBunga, and Jeruk Kecil (small orange). These plants are used by the people of Karo as raw material for manufacturing Karo oil, Param and Tawar.en_US
dc.description.abstractPengetahuan lokal dikembangkan berdasarkan pengalaman, telah diuji penggunaanya selama berabad-abad dan telah diadaptasikan dengan budaya dan lingkungan setempat. Berkaitan dengan pemanfaatan obat tradisional, pengetahuan tersebut telah melalui tahapan yang panjang dan telah teruji secara turun temurun oleh masyarakat seperti halnya di Kabupaten Karo, Masyarakat Karo sejak dulu telah mengenal obat-obatan tradisional yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Karo mengenal beberapa jenis penyakit dan juga cara-cara mengobatinya. Pengetahuan ini dikatakan sebagai salah satu kearifan lokal yang masih bertahan hingga saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif, penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik Snowball Sampling yaitu mengumpulkan data sedikit demi sedikit namun terus menggelinding seperti bola salju yang pada akhirnya mendapatkan informasi yang cukup banyak, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Data dianalisis kemudian disajikan secara naratif dan mengutip hasil wawancara mendalam dengan informan, lalu di persentasekan dan disajikan dalam gambar/grafik. Hasil penelitian menyatakan bahwa dari 101 orang Penyehat Tradisional di 17 kecamatan dalam Kabupaten Karo diambil sampel secara purposive sampling sehingga didapatkan Informan Kunci Hattra sebanyak 17 orang dari 7 kecamatan. Bentuk pelayanan kesehatan tradisional di kabupaten Karo adalah keterampilan 67%, ramuan 27%, dan kombinasi (keterampilan dan ramuan) 6%, usia Hattra yang memiliki persentase kecil (20-30 tahun) sebanyak 5,58%, yang terbesar adalah 51 tahun keatas dengan persentase 70%, cara memperoleh keahlian yang terbanyak adalah turun temurun (empiris) sebanyak 71%, pekerjaan selain Hattra yang terbanyak adalah petani (59%) dan tidak memiliki izin/STPT sebanyak 82%,. Dari 40 responden pasien yang didapat 80% menyatakan puas dan 20% menyatakan tidak puas atas pelayanan yang diberikan Hattra. Ramuan tradisional yang dibuat oleh etnik Karo dikenal dengan “obat Karo” sudah dikenal luas oleh masyarakat Karo, bahkan juga di luar Kabupaten Karo. Obatan-obatan tradisional tersebut diperdagangkan dalam bentuk bahan baku dasar ataupun dalam bentuk olahan, tanaman obat yang paling sering digunakan adalah gagatan harimo, lempuyang, lada, bawang putih, bawang merah, bahing, tinggeren keruk bunga, dan jeruk kecil. Tanaman ini digunakan masyarakat karo sebagai bahan baku untuk pembuatan minyak karo, param dan tawar.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectHattraen_US
dc.subjectTanaman Obaten_US
dc.subjectRamuan/Keterampilanen_US
dc.subjectPasienen_US
dc.titlePelayanan Penyehat Tradisional dan Tanggapan Pasien di Kabupaten Karoen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik157004004


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record