Show simple item record

dc.contributor.advisorHasan, Refli
dc.contributor.advisorSafri, Zainal
dc.contributor.authorYusmardy
dc.date.accessioned2020-01-22T02:11:18Z
dc.date.available2020-01-22T02:11:18Z
dc.date.issued2013
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/22947
dc.description73 Halamanen_US
dc.description.abstractBackground Coronary Heart Disease (CHD) is a disease caused by a state of imbalance between myocardial oxygen delivery and oxygen demand which is often caused by obstruction of coronary atherosclerotic disease is the underlying cause of the occurrence of CHD. Measuring the thickness of the tunica intima-media (IMT) in the common carotid artery (CCA) is considered a useful indicator of carotid atherosclerosis. Prospective study showed that the ACC is a predictor of CIMT measurements against cardio vascular events. It's debatable whether increased CIMT ACC associated with the severity of coronary artery stenosis proven by angiography examination. Objective : To determine whether increased CIMT ACC associated with the severity of coronary artery stenosis in patients with stable angina pectoris. Materials and Methods: Observational study with cross-sectional measurement methods. Subjects with stable angina pectoris, CIMT measurements right and left ACC and laboratory examination of blood and coronary angiography. CIMT measurements were divided into 3 groups based on consensus Mannheim 2011. The degree of severity of coronary artery stenosis assessed by a score of vessels consisting of 0-3 points based on the number of major coronary artery stenosis ≥ 50%. Furthermore, ACC CIMT measurements associated with vessel score. Results: A total number of 39 subjects with stable angina pectoris, in which subjects with a score of 0 1 (2.6%) patients with mean (± SD) CIMT ACC right and left 0.83 mm and 0.81 mm, while a score of 1, 2 and 3 were 7 (17.9%) , 17 (43.6%) and 14 (35.9%) patients respectively with mean (± SD) CIMT 0.91 ± 0.26 mm at right and left 0.86 ± 0.49 mm, 0,90 ± 0,18 mm at right and left 1.03 ± 0.29 mm, 1.20 ± 0.39 mm at right and left 1.10 ± 0.25 mm, respectively. There was a statistically significant positive correlation between increased level of CIMT measurement right and left with vessel score using Pearson’s correlation.(r = 0.393 and r = 0.282 p = 0.01). Conclusion: There was a correlation between increased levels of CIMT measurement right and left with vessel score. The higher level of CIMT measurement has strongly correlation with the degree of coronary artery stenosis. CIMT measurement right and left can be use to predict the condition of severity coronary artery stenosis in patients with stable angina pectoris.en_US
dc.description.abstractLatar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyakit yang disebabkan suatu kondisi ketidakseimbangan antara penyaluran oksigen ke miokardium dan kebutuhan oksigen yang sering disebabkan oleh obstruksi penyakit aterosklerosis koroner yang merupakan dasar penyebab terjadinya PJK. Pengukuran ketebalan Tunika Intima-Media (IMT) pada arteri karotis komunis (CCA) dianggap sebagai indikator yang berguna pada aterosklerosis karotis. Studi prospektif menunjukkan bahwa pengukuran CIMT ACC merupakan prediktor terhadap kejadian kardio vaskular. Masih diperdebatkan apakah peningkatan CIMT ACC berhubungan dengan derajat keparahan stenosis arteri koroner yang dibuktikan dari pemeriksaan angiografi. Tujuan : Untuk mengetahui apakah peningkatan CIMT ACC berhubungan dengan derajat keparahan stenosis arteri koroner pada pasien angina pektoris stabil. Bahan dan Cara : Penelitian observasional dengan metode pengukuran cross-sectional. Subjek dengan Angina Pektoris Stabil, dilakukan pengukuran CIMT ACC kanan dan kiri dan laboratorium darah serta pemeriksaan angiografi koroner. Pengukuran CIMT dibagi atas 3 grup berdasarkan Konsensus Mannheim 2011. Derajat keparahan stenosis arteri koroner dinilai dengan skor vessel yang terdiri dari 0-3 poin berdasarkan jumlah arteri koroner utama yang mengalami stenosis ≥ 50%. Selanjutnya hasil pengukuran CIMT ACC dihubungkan dengan skor vessel. Hasil : Dari 39 subjek penelitian dimana subjek dengan skor 0 sebanyak 1(2,6 %) pasien dengan rerata CIMT ACC kanan 0,83 mm dan kiri 0,81 mm, sedangkan pada skor 1, 2 dan 3 adalah 7 (17,9 %), 17 (43,6 %) dan 14 (35,9 %) orang berturut-turut dengan rerata CIMT kanan 0,91 ± 0,26 mm dan kiri 0,86 ± 0,49 mm, kanan 0,90 ± 0,18 mm dan kiri 1,03 ± 0,29 mm, kanan 1,20 ± 0,39 mm dan kiri 1,10 ± 0,25 mm berturut-turut. Pada uji korelasi Pearson diperoleh hubungan linier positif yang signifikan antara skor vessel dengan peningkatan pengukuran CIMT ACC kanan dan kiri (r=0,393 dan r=0,282 dengan p= 0,01). Kesimpulan : Didapatkan hubungan peningkatan pengukuran CIMT ACC kanan dan kiri dengan skor vessel. Semakin tinggi CIMT ACC, semakin banyak arteri koroner yang mengalami stenosis ≥ 50 %. Pengukuran CIMT ACC kanan dan kiri dapat digunakan untuk memprediksi keadaan keparahan stenosis arteri koroner yang terjadi pada pasien angina pektoris stabil.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectAPSen_US
dc.subjectCIMT ACCen_US
dc.subjectKeparahan Stenosis Arteri Koroneren_US
dc.titleHubungan Ketebalan Tunika Intima Media Arteri Karotis Komunis dengan Derajat Stenosis Arteri Koroner pada Pasien Angina Pektoris Stabilen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik067101011


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record