Show simple item record

dc.contributor.advisorSitumorang, Hamzon
dc.contributor.authorLaia, Nurhasrat
dc.date.accessioned2020-03-03T00:47:43Z
dc.date.available2020-03-03T00:47:43Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/24689
dc.description54 Halamanen_US
dc.description.abstractManusia adalah mahluk sosial yang setiap hariannya berinteraksi dengan sesamanya dan menghasilkan peradaban. Dengan terciptanya peradaban dan bersamaan dengan terus meningkatnya peradaban, menghasilkan berbagai bentuk kebudayaan. Manusia disebut makhluk sosial, karena dalam diri manusia ada hasrat untuk berinteraksi dengan orang lain yang dilandasi oleh kesamaan ciri atau kebutuhan. Tsukagirei adalah siklus kehidupan manusia mulai dari kelahiran sampai kematian. Upacara dalam daur hidup manusia ini dimulai dari kelahiran, masa anak-anak (youzi) masa remaja (chugakkou), perkawinan (kekkong), dan kematian ( shibo). Perayaan-perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran sampai menjadi dewasa. Nenjugirei atau ritus-ritus sepanjang tahun adalah perayaan tahunan di dalam kehidupan masyarakat Jepang. Salah satu perayaan tahunan yang selalu dirayakan di Jepang yaitu perayaan Kodomo no Hi (festival Koinobori). Festival Koinobori adalah festival perayaan hari anak yang di tandai dengan pengibaran bendera berbentuk ikan koi. Mulai dari yang besar hingga yang kecil. Pengibaran koinobori ini dilakukan untuk menyambut hari perayaan tango no sekku. Perayaan ini bertujuan untuk mendoakan anak-anak mereka kepada para dewa agar anak tersebut kelak bias menjadi penerus sesuai dengan harapan orangtuanya. Ritual ini dapat dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Koinobori mulai dipasang sebulan sebelum perayaan Kodomo no Hi yaitu pada bulan April. Koinobori dipasang secara berurutan dari yang paling besar hingga yang paling kecil. Koinobori yang paling besar akan dipasang paling atas setelah fukinagashi ( sejenis kincir ). Bersumber pada kepercayaan orang Jepang, koinobori dipasang paling atas adalah koinobori berwarna hitam yang merupakan simbol seorang ayah dan di ikuti oleh beberapa bendera ikan koi yang masing memiliki warna dan makna yang berbeda. Bendera ikan koi ini berwarna hitam, merah, biru atau hijau dan orange. Dari setiap warna yang ada masinng-masing memiliki makna. Makna warna hitam pada koinobori di Jepang mewakili seorang ayah yang memiliki jiwa yang tegar dan kuat. Koinobori berwarna merah (higoi), ukuran nya lebih kecil dibandingkan magoi, koinobori ini melambangkan sosok seorang ibu. Koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori hijau melambangkan putra kedua. Tersedianya koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki anak perempuan. Stereotipe masyarakat terhadap warna tertentu masih menjadi patokan beberapa orang, dalam hal ini laki-laki, untuk memilih dan memakai pakaian dengan warna tertentu. Hal ini diakui oleh beberapa laki-laki yang kadang merasa tidak nyaman jika memakai baju warna pink, meskipun ia menyukainya. Alasannya adalah biasanya karena ditertawakan oleh teman atau bahkan oleh dosen, sehingga ia merasa tidak sopan memakai baju pink saat kuliah. Laki-laki dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat tentang konsep kemaskulinan, termasuk dalam memilih warna. Warna pink yang identik dengan kelembutan dan feminin, dianggap tidak pantas digunakan oleh laki-laki karena hal tersebut dianggap akan mengurangi sisi kemaskulinannya. Karena bagi masyarakat awam pemilihan warna yang harus sesuai gender.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectWarnaen_US
dc.subjectKoinborien_US
dc.titleAnalisis Makna Warna pada Koinobori di Jepangen_US
dc.title.alternativeNihon No Koinobori Ni Okeru Iro No Imi No Bunsekien_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US
dc.identifier.nimnipnik150708004


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record