Show simple item record

dc.contributor.advisorHasan, Harris
dc.contributor.advisorNasution, Ali Nafiah
dc.contributor.authorSitompul, Cindy Ayuningtias
dc.date.accessioned2020-06-26T04:14:37Z
dc.date.available2020-06-26T04:14:37Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/26417
dc.description70 Halamanen_US
dc.description.abstractIntroduction: Acute Heart Failure (AHF) is one of the main causes of acute dyspnea that is encountered in the Emergency Department (ED). A misdiagnosis or late diagnosis of AHF can lead to longer treatment days, higher mortality and increased costs. Pulmonary congestion is a universal finding in AHF. The number of B-lines on pulmonary ultrasonography correlates strongly with extravascular pulmonary fluid. The aim of this study was to evaluate the diagnostic value of pulmonary ultrasonography in differentiating AHF from other causes of acute dyspnea in the ED. Method: This was a cross-sectional study conducted at H. Adam Malik General Hospital from January to July 2019. History taking, physical examination, chest X-ray and laboratory examination were performed on all acute dyspnea patients who came to the emergency room. Lung ultrasonography was then performed on four areas of each hemithorax. Bilateral discovery of two positive zones (> 2 B-lines) is considered AHF. After the patient returns home or dies, two cardiologists who are not aware of the results of lung ultrasonography will review the patient's medical record and then determine the patient's final diagnosis (diagnosis of gold standard). The diagnosis criteria for AHF refer to the 2016 European Society of Cardiology (ESC) heart failure guidelines and the patient's response to therapy. If there is a discrepancy, then third cardiologist is asked for his opinion. Results: This study included 121 patients with a median age of 59 (52-64) and most were male (84.3%). Sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, positive likelihood ratio and negative likelihood ratio of lung ultrasonographic examinations were 93%, 88%, 88%, 93%, 7.75 and 0.07, respectively. AUC of lung ultrasonography is 0.90. Addition of clinical and laboratory data can increase the AUC to 0.96. The B-line number correlated strongly with NT-pro BNP (r = 0.80, p <0.001). Conclusion: Lung ultrasonography is an easy examination and has a very good diagnostic accuracy. Integration with clinical examination can improve diagnosis accuracy.en_US
dc.description.abstractPendahuluan: Gagal Jantung Akut (GJA) merupakan salah satu penyebab utama sesak nafas akut yang ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kesalahan atau keterlambatan diagnosis GJA dapat menyebabkan hari rawatan yang lebih lama, kematian yang lebih tinggi dan peningkatan biaya. Kongesti paru merupakan temuan universal pada GJA. Jumlah Bline pada pemeriksaan ultrasonografi paru berkorelasi secara kuat dengan cairan paru ekstravaskular. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi nilai diagnostik ultrasonografi paru dalam membedakan GJA dengan penyebab lain sesak nafas akut di IGD. Metode: Penelitian merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik mulai dari januari hingga juli 2019. Anamnesa, pemeriksaan fisik, ronsen thoraks dan pemeriksaan laboratorium dilakukan pada semua pasien sesak nafas akut yang datang ke IGD. Ultrasonografi paru kemudian dilakukan pada empat area masing-masing hemithoraks. Ditemukannya dua zona yang positif (> 2 B-line ) secara bilateral dianggap sebagai GJA. Setelah pasien pulang atau meninggal, dua dokter spesialis jantung yang tidak mengetahui hasil ultrasonografi paru akan meninjau ulang rekam medis pasien dan kemudian menentukan diagnosis akhir pasien (diagnosis gold standard). Kriteria diagnosis GJA mengacu pada panduan gagal jantung European Society of Cardiology (ESC) 2016 dan respon pasien terhadap terapi. Jika terdapat ketidaksesuaian, maka speliasis jantung ketiga diminta pendapatnya. Hasil: Penelitian ini mengikutsertakan 121 pasien deengan median usia 59 (52 - 64) dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (84,3%). Sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilai duga negatif, rasio kemungkinan positif dan rasio kemungkinan negatif pemeriksaan ultrasonografi paru adalah masing-masing 93%, 88%, 88%, 93%, 7.75 and 0.07. AUC ultrasonografi paru adalah 0,90. Penambahan data klinis dan laboratorium dapat meningkatkan AUC menjadi 0,96. Jumlah B-line berkorelasi kuat dengan NT-pro BNP (r = 0.80, p< 0.001). Kesimpulan: Ultasonografi paru merupakan pemeriksaan yang mudah dan memiliki akurasi diagnosis yang sangat baik.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectGagal Jantung Akuten_US
dc.subjectNT-proBNPen_US
dc.subjectLung Ultrasounden_US
dc.titleNilai Diagnostik Ultrasonografi Paru Dalam Mendiagnosis Gagal Jantung Akut di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medanen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik157041024


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record