Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Luthfi A. M
dc.contributor.advisorDamanik, Revandy I. M
dc.contributor.authorTurnip, Lambok
dc.date.accessioned2020-07-08T04:22:01Z
dc.date.available2020-07-08T04:22:01Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/26651
dc.description109 Halamanen_US
dc.description.abstractThis study aims to determine the effect of tuber weight and cytokinin immersion treatment time on breaking the dormancy period of potato tuber. This research was carried out at the seed warehouse of UPT Benih Induk Hortikultura Kutagadung Berastagi, Dinas Tanaman Pangan and Hortikultura, Sumatera Utara. This research was conducted using factorial completely randomized design, with 2 factors. The first factor, the weight of potato tubers of 4 levels, ie: 25-35 g, 55-65 g, 85-95 g and 115-125 g. The second factor, cytokinin immersion time of 5 levels, ie: without cytokinin immersion, 1 days after harvest (DAH), 15 DAH, 30 DAH and 45 DAH. The results showed that the fastest time of dormancy release was on potato tuber weight 115-125 g (15.67 days), 14.06 days faster than tuber weight 25-35 g. The fastest time of dormancy release was on cytokinin immersion time of 45 DAH (17.08 days), 11.75 days faster than without cytokinin immersion, or 5,25 days faster than cytokinin immersion time of 1 DAH. The fastest dormancy release was at tuber weight 115-125 g and cytokinin immersion time of 45 HSP (10 days). The number and weight of sprouts increases with increasing tuber weight and cytokinin immersion time.en_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot umbi dan waktu perlakuan perendaman dengan sitokinin terhadap pematahan masa dormansi benih kentang. Penelitian ini dilaksanakan di Gudang benih UPT. Benih Induk Hortikultura Kutagadung Berastagi, Dinas Tanaman Pangan and Hortikultura, Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, dengan 2 faktor. Faktor pertama, bobot benih kentang, terdiri dari 4 taraf, yaitu: B1 = 25-35 g, B2 = 55-65 g, B3 = 85-95g, dan B4 = 115-125 g. Faktor kedua, waktu perendaman sitokinin, terdiri dari 5 taraf, yaitu: W0 = kontrol, W1 = 1 hari setelah panen (HSP), W2 = 15 HSP, W3 = 30 HSP, dan W4 = 45 HSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pematahan dormansi yang paling cepat adalah pada benih dengan bobot 115-125 g (60,67 hari), lebih cepat 14,06 hari dari benih dengan bobot 25-35 g. Pematahan dormansi yang paling cepat adalah pada perendaman 45 HSP yaitu 62,08 hari, lebih cepat 11,75 hari dari tanpa perendaman, atau lebih cepat 5,25 hari dari perlakuan perendaman 1 HSP. Pematahan dormansi yang paling cepat adalah pada perlakuan B4W4, yaitu: 55 hari. Jumlah dan bobot tunas semakin meningkat dengan semakin lamanya waktu perendaman, dan dengan semakin bertambahnya bobot umbien_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectbenih umbi kentangen_US
dc.subjectbobot umbien_US
dc.subjectsitokininen_US
dc.subjectpematahan dormansien_US
dc.subjectumbien_US
dc.titlePengaruh bobot umbi dan waktu perlakuan perendaman sitokinin terhadap pematahan dormansi benih kentang (Solanum tuberosum L)en_US
dc.typeTesis Magisteren_US
dc.identifier.nimnipnik167001027


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record