Show simple item record

dc.contributor.advisorSembiring, Rosnidar
dc.contributor.advisorHasibuan, Puspa Melati
dc.contributor.authorRitonga, Muhammad Rachwi
dc.date.accessioned2018-09-25T08:49:33Z
dc.date.available2018-09-25T08:49:33Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.otherNurhusnah Siregar
dc.identifier.urihttp://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/6758
dc.description140200241en_US
dc.description.abstractPada dasarnya waralaba (franchise) merupakan suatu konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat, sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, kecuali kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan Pihak lain. Pada penulisan skripsi saya ini yang berjudul Aspek Hukum Tentang Perjanjian Waralaba Dengan Merek Dagang “Rajawali Kupie” Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek (Studi Kasus Di Rajawali Kupie Medan). Permasalahan skripsi saya ini adalah prosedur perjanjian waralaba antara King Kuphi dengan Rajawali Kupie. Perjanjian tersebut adalah secara lisan karena kedua pemilik gerai kopi tersebut adalah mitra kerja sejak 20 tahun yang lalu. Kesepakatan di antara kedua belah pihak diambil secara musyawarah dengan persyaratan hak dan kewajiban yang harus diberikan kepada masing-masing pihak. King Kuphi sebagai pemberi waralaba (franchisor) sedangkan Rajawali Kupie sebagai penerima waralaba (franchisee). Hak dan kewajiban dari pemberi dan penerima waralaba juga menjadi permasalah pada skripsi saya ini. Apabila kedua belah pihak menyalahgunakan atas Hak Merek di Indonesia maka kedua belah pihak telah melanggar Undang-Undang Merek No. 20 Tahun 2016 dengan sanksi penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah). Penelitian ini adalah yuridis normatif dengan studi perpustakaan (Library Research) dengan didukung wawancara di lapangan (Pemilik Gerai Kopi “Rajawali Kupie” di Jalan Rajawali No. 4 Medan) Kesimpulan dari penulisan skripsi ini adalah prosedur perjanjian waralaba antara King Kuphi dengan Rajawali Kupie adalah secara bentuk lisan dikarekan para pemilik gerai adalah seorang mitra kerja di Perusahaan Minyak & Gas ExxonMobil sejak 20 tahun yang lalu. Hak dan Kewajiban pemberi waralaba (franchisor) adalah melakukan pengawasan pelaksanaan, mewajibkan penerima lisensi, menerima pembayaran royalty, melakukan lisensi HAKI dan memberikan Merek atau Nama Dagang kepada penerima waralaba, sedangkan hak dan kewajiban dari penerima waralaba (franchisee) adalah melaksanakan seluruh instruksi dari pemberi waralaba, memberikan laporan, melakukan pendaftaran royalty dan menjaga kerahasiaan atas HAKI yang dilisensikan. Namun apabila kedua belah pihak menyalahgunakan atas Hak Merek di Indonesia maka kedua belah pihak telah melanggar Undang-Undang Merek No. 20 Tahun 2016 dengan sanksi penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectPerjanjian Waralabaen_US
dc.subjectRajawali Kupieen_US
dc.subjectUU RI No. 20 Tahun 2016en_US
dc.titleAspek Hukum Tentang Perjanjian Waralaba dengan Merek Dagang “Rajawali Kupie” Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek (Studi Kasus Rajawali Kupie Medan)en_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record