Show simple item record

dc.contributor.advisorLubis, Syahron
dc.contributor.advisorZein, T. Thyrhaya
dc.contributor.authorRahmat
dc.date.accessioned2018-12-20T07:39:46Z
dc.date.available2018-12-20T07:39:46Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.otherIndra
dc.identifier.urihttps://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/9762
dc.description107009024en_US
dc.description.abstractThe objectives of this study are to describe (1) the translation process, (2) the complicated factors found, and (3) the suitable translation techniques chosen in translating the Acehnese’s fable and parable texts into English. The data of this study are six stories of fables and parables, namely “Lhèe Sikawan”, “Haba Peulandôk ngon Sipôt”, “Peulandôk”, “Abu Nawah”, “Putroe Cut Geunta Lila”, and “Raja Teumbôn”. The data were taken from Geunta book, a reading book for primary schools, volume 4 to 6, published in 1969. This descriptive-qualitative research is used to give an overview of the translation process and problems found caused by linguistic or cultural differences using the appropriate translation techniques in translating from SL to TL. This study focuses on translation process not its product. In general, the writer does not find difficulties in translating the Acehnese’s fable and parable texts into English except some cultural expressions that must be translated using oblique translation techniques due to the gaps of language and cultural systems of the both languages. In the translation process, the writer conducted two stages, first, translating the fables and parables of the six texts literally, word per word and then classifying certain words which have linguistic functions in the sentence so that the message in SL will not lose. Second, after the texts were translated, the writer described the generic structure and language features of texts in order to reach the standards of the generic structure and linguistic features of a narrative genre text. In general, the writer did not find difficulties in the translation process. But however, due to the differences of linguistic structure and cultural aspects of the two languages, the oblique translation techniques were used dominantly, 305 data (64,4%) than literal translation techniques, 169 data (35.6%). Based on the frequent use of each of the oblique translation techniques, the first rank was modulation 98 data (32.1%), then, transposition 53 data (17.4%), addition 52 data (17%), deletion 38 data (12.5%), reduction 35 data (11.5%), amplification 10 data (3.3%), adaptation 7 data (2.3%), particularization 5 data (1.7%), description 3 data (1%), established equivalence and generalization 2 data (0.6%) respectively.en_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerjemahan, faktor-faktor yang menyulitkan, dan teknik-teknik penerjemahan yang sesuai untuk digunakan dalam menerjemahkan teks fabel dan parabel masyarakat Aceh tersebut. Data penelitian ini adalah enam cerita rakyat Aceh jenis fabel dan parabel yang telah diterjemahkan, yaitu “Lhèe Sikawan”, “Haba Peulandôk ngon Sipôt”, “Peulandôk”, ”Abu Nawah”, “Putroe Cut Lila Geunta”, dan “Raja Teumbôn”. Data tersebut bersumber dari buku bacaan bahasa Aceh ‘Geunta’ jilid 4 s.d. 6 untuk sekolah dasar terbitan tahun 1969. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Melalui metode ini dipaparkan gambaran proses penerjemahan TSu ke TSa dan permasalahannya, baik yang disebabkan oleh perbedaan struktur kedua bahasa maupun karena kesenjangan budaya kedua bahasa dengan menggunakan teknik penerjemahan yang tepat dan kontekstual. Penelitian ini memfokuskan pada proses penerjemahan bukan pada analisis produk. Secara garis besar, penulis tidak mengalami kesulitan berarti dalam penerjemahan teks fabel dan parabel masyarakat Aceh ke dalam BA, kecuali beberapa ungkapan yang harus diterjemahkan dengan teknik penerjemahan tak langsung dikarenakan perbedaan sistem bahasa dan budaya. Dalam melakukan proses penerjemahan, penulis melakukan dua tahapan, pertama, menerjemahkan terlebih dahulu keenam teks fabel dan parabel dimaksud secara harfiah, kata perkata dan mengklasifikasikan kata-kata tertentu yang mempunyai fungsi dalam kalimat sehingga tidak ada informasi yang terlewatkan. Kedua, setelah teks-teks tersebut diterjemahkan, penulis mendeskripsikan struktur generik dan fitur bahasa teks-teks dimaksud agar memenuhi standar struktur generik dan fitur kebahasaan teks bergenre naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknik penerjemahan tak langsung lebih dominan. Hal ini terjadi disebabkan perbedaan sistem bahasa dan budaya yang signifikan antara BSu dan BSa. Dari 474 data penerjemahan keenam teks dimaksud, 169 data (35,6%) diterjemahkan dengan teknik penerjemahan langsung dan 305 data diterjemahkan dengan teknik penerjemahan tidak langsung (64,4%), yang terdiri atas modulasi 98 data (32,1%), transposisi 53 data (17,4%), penambahan 52 data (17%), penghilangan 38 data (12,5%), reduksi 35 data (11,5%), amplifikasi 10 data (3,3%), adaptasi 7 data (2,3%), partikulasi 5 data (1,7%), deskripsi 3 data (1%), kesepadanan lazim dan generalisasi masing-masing 2 data (0,6%).en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Sumatera Utaraen_US
dc.subjectPenerjemahanen_US
dc.subjectTeks Fabel dan Parabelen_US
dc.subjectMasyarakat Acehen_US
dc.titlePenerjemahan Fabel dan Parabel Masyarakat Aceh ke dalam Bahasa Inggrisen_US
dc.typeTesis Magisteren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record