Perbedaan Kadar Kortisol dan α-amilase Saliva Sebelum dan Sesudah Inhalasi Aromaterapi Rosemary (Rosmarinus officinalis L.) Pada Pasien Praekstraksi Gigi
Abstract
Stres praekstraksi gigi merupakan bentuk dental anxiety yang sering dialami pasien dan dapat memicu respons fisiologis melalui aktivasi hypothalamic–pituitary–adrenal (HPA) axis dan autonomic nervous system (ANS), yang tercermin dari perubahan kadar kortisol dan α-amilase saliva. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kadar kortisol dan α-amilase saliva setelah inhalasi aromaterapi rosemary (Rosmarinus officinalis L.) serta hubungannya dengan tingkat kecemasan pada pasien praekstraksi gigi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pre-eksperimental dengan desain one group pretest–posttest. Subjek penelitian berjumlah 20 pasien praekstraksi gigi berusia 18–35 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner, sedangkan kadar kortisol dan α-amilase saliva dianalisis menggunakan metode ELISA. Analisis data dilakukan menggunakan uji Shapiro–Wilk, uji Wilcoxon Signed Rank Test, dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan kadar kortisol saliva (p=0,001) dan kadar α-amilase saliva (p=0,040) setelah inhalasi aromaterapi rosemary. Tingkat kecemasan yang lebih tinggi menunjukkan kecenderungan peningkatan kadar kortisol dan α-amilase saliva dan korelasinya melemah setelah inhalasi aromaterapi Rosemary. Dapat disimpulkan bahwa inhalasi aromaterapi rosemary berperan dalam menurunkan respons stres fisiologis, dan tingkat kecemasan berhubungan dengan perubahan kadar kortisol dan α-amilase saliva pada pasien praekstraksi gigi.
Collections
- Undergraduate Theses [1985]
