Analisis Biaya Manfaat Pengembangan Program Desa Siaga Aktif di Kabupaten Langkat Tahun 2012
View/ Open
Date
2012Author
Fatimah, Siti
Advisor(s)
Nasution, Siti Khadijah
Metadata
Show full item recordAbstract
An active alert village is a village in which its people have will, capability, and independency in solving health problem. Since 2006, the government has emphasized on health promotion through an alert village program and confirmed that in 2015, 80% of villages will be established as active alert villages guided by the Decree of the Minister of Health No. 1529/Menkes/SK/X/2010. In 2010, all villages in Langkat District became alert villages by the financial aid from the central government, but only 10% of them were active (3.61%). Therefore, it is necessary to evaluate the program by analyzing the cost benefit in order to optimize advocacy related to the policy and the provision of the budget.
The aim of the research was to understand the decision making in developing active alert villages, to know the correlation between benefit and the expense, and to prepare the budget for the advocacy of the budget. It was expected that they could provide input to the Health Service in Langkat District, increase scientific reference to the evaluation of health economy, and develop science in the field of public health.
The type of the research was the evaluation on ten active alert villages in Langkat District and ten sets of decision making which had been selected purposively. The data consisted of the primary and secondary data. The methods of measurement were BCR, NPV, and IRR calculations on all costs and benefit which had previously been identified.
The result of the research showed that the ten active alert villages had sufficient administrative and operational facilities with the development: three purnama alert villages, five madya alert villages, and two pratama alert villages. All sets of decision making had good commitment and supported the development, and their budget was from APBD (Regional Budget). The total expense for the development of active alert villages was Rp. 1,051,951,200.00 and the value of benefit which should be invested was Rp. 2,207,406.200,00. The result of BCR calculation was 2.20 and 2.19 with discount rate 12% and 15%. The Health Service should proactive in setting the budget with complete justification in order that the development of alert village program can run successfully. Desa siaga aktif adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemauan, kemampuan, kemandirian dalam mengatasi masalah kesehatan. Sejak tahun 2006 pemerintah menekankan upaya promosi kesehatan melalui program desa siaga dan menetapkan tahun 2015 sebanyak 80 % desa telah menjadi desa/keluarahn siaga aktif dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan No. 1529/Menkes/SK/X/2010. Pada tahun 2010, seluruh desa di Kabupaten Langkat sudah menjadi desa siaga dengan bantuan dana pembentukan dari pusat, namun yang aktif hanya 10 desa (3,61%). Maka perlu dilakukan evaluasi terhadap program tersebut dengan analisis biaya manfaat (cost benefit analisis) guna mengoptimalkan advokasi terkait kebijakan dan penyediaan anggarannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman pengambil keputusan tentang pengembangan desa siaga aktif, mengetahui perbandingan manfaat terhadap biaya yang dikeluarkan dan menyiapkan bahan untuk advokasi anggaran. Manfaat yang diharapkan dapat memberi masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat, menambah referensi ilmiah tentang evaluasi ekonomi kesehatan dan mengembangkan keilmuan dalam bidang kesehatan masyarakat.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluasi terhadap 10 desa siaga aktif yang ada di Kabupaten Langkat dan 10 pengambil keputusan yang dipilih secara purposive. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Metode pengukuran yang dipilih adalah perhitungan BCR, NPV dan IRR terhadap seluruh biaya dan manfaat yang sudah diidentifikasi sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 desa siaga aktif tersebut memiliki kelengkapan administrasi dan operasional yang cukup dengan tahap pengembangan; 3 desa siaga Purnama, 5 desa siaga madya dan 2 desa siaga pratama. Seluruh pengambil keputusan memiliki komitmen yang baik dan mendukung pengembangan dan penganggarannya melalui APBD. Total biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan program desa siaga aktif berjumlah Rp. 1.051.951.200,00, sedangkan nilai manfaat yang dapat diinvestasikan sejumlah Rp.2.207.406.200,00. Hasil perhitungan BCR adalah 2,20 dan 2,19 dengan discount rate 12% dan 15%., Hanya Desa Padang Cermin dan Telaga Jernih memiliki nilai BCR, NPV dan IRR yang sesuai dengan harapan. Dinas Kesehatan diharapkan bersikap proaktif dalam menyusun kebutuhan anggaran dengan justifikasi yang lengkap untuk Tahun Anggaran 2013 dan seterusnya agar pengembangan program desa siaga ini berhasil dengan baik.
Collections
- Master Theses [2435]
